Psikologi Pendidikan
Faktor
faktor yang mempengaruhi proses belajar
Secara umum
faktor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua
kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut
saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil
belajar.
A. Faktor
internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal
ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
1. Faktor
fisiologis
Faktor-faktor
fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor
ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan
tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi
fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan
belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan
menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan
tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk
menjaga kesehatan jasmani.
Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain
adalah :
a. Menjaga pola makan yang sehat dengan
memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena kekurangan gizi
atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu , dan mengantuk,
sehingga tidak ada gairah untuk belajar,
b. Rajin berolah raga agar tubuh selalu
bugar dan sehat;
c. Istirahat yang cukup dan sehat.
Kedua, keadaan
fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi
fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca
indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar
dengan baik pula. Dalam proses belajar, merupakan pintu masuk bagi segala
informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehingga manusia dapat menangkap
dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar
adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga
panca indra dengan baik, baik secara preventif maupun secara yang bersifat
kuratif. Dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan,
memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodik, mengonsumsi
makanan yang bergizi, dan lain sebagainya.
2. Faktor psikologis
Faktor –faktor psikologis adalah
keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa
faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan
siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
a. Kecerdasan
/intelegensia siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan
sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan
diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan
bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh
lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ
yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ
pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan faktor
psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu
menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi itelegensi seorang individu,
semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar.
Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi individu, semakin sulit individu
itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari
orang lain, seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya. Sebagai faktor
psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan
pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru profesional,
sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.
Para ahli membagi tingkatan IQ
bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes
Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman dan Merill sebagai berikut
((Fudyartanto 2002).
Distribusi Kecerdasan IQ menurut Stanford Revision
|
Tingkat
kecerdasan (IQ)
|
Klasifikasi
|
|
140 – 169
|
Amat superior
|
|
120 – 139
|
Superior
|
|
110 – 119
|
Rata-rata tinggi
|
|
90 – 109
|
Rata-rata
|
|
80 – 89
|
Rata-rata rendah
|
|
70 – 79
|
Batas lemah mental
|
|
20 — 69
|
Lemah mental
|
Dari table tersebut, dapat diketahui
ada 7 penggolongan tingkat kecerdasan manusia, yaitu:
A. Kelompok kecerdasan amat superior
(very superior) merentang antara IQ 140—IQ 169;
B. Kelompok kecerdasan superior
merentang antara IQ 120—IQ 139;
C. Kelompok rata-rata tinggi (high
average) merentang antara IQ 110—IQ 119;
D. Kelompok rata-rata (average)
merentang antara IQ 90—IQ 109;
E. Kelompok rata-rata rendah (low
average) merentang antara IQ 80—IQ 89;
F. Kelompok batas lemah mental
(borderline defective) berada pada IQ 70—IQ 79;
G. Kelompok kecerdasan lemah mental
(mentally defective) berada pada IQ 20—IQ 69, yang termasuk dalam kecerdasan
tingkat ini antara lain debil, imbisil, idiot.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan
individu dapat diperoleh oleh orang tua dan guru atau pihak-pihak yang
berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga
dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat
superior, superior, rata-rata, atau mungkin malah lemah mental. Informasi
tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berharga untuk
memprediksi kamampuan belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan
peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan
diberikan kepada siswa.
b. Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor
yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa atau “daya
penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal
dari dalam diri dan juga dari luar”. Motivasilah yang mendorong siswa
ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi
sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan
menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai
pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah
perilaku seseorang.
Dari sudut sumbernya motivasi dibagi
menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi
intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan
memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar
membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak
hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi
kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang
efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada
motivasi dari luar (ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah,
1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
a. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia
yang lebih luas;
b. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada
manusia dan keinginan untuk maju;
c. Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga
mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru,
atau teman-teman, dan lain sebagainya.
d. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau
pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor
yang datang dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan
untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orang tua,
dan lain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan
memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.
Seseorang yang
belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya
dengan sungguh-sungguh, penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan
motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang
berhubungan dengan pelajaran. Jadi kuat lemahnya motivasi seseorang turut
mempengaruhi keberhasilannya.
c. Minat
Secara sederhana, minat (interest)
berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu tanpa ada yang menyuruh. Minat pada
dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar
minat. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam
psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal
lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, moativasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya,
minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh
terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau
belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau
pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi
pelajaran yang akan dihadapinya atau dipelajarannya.
Untuk membangkitkan minat belajar
tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain, pertama dengan membuat
materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan, baik dari
bentuk buku materi, desain pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplor apa
yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif,
psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang
menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam
hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh
siswa sesuai dengan minatnya.
d. Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu
dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal
yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons
dangan cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebagainya,
baik secara positif maupun negative (Syah, 2003).
Sikap siswa dalam belajar dapat
dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru,
pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap
yang negative dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang
professional dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas,seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi
siswanya; berusaha mengambangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik,
sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajaranyang
diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkansiswa bahwa bidang
studi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
e. Bakat
Faktor psikologis lain yang
memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude)
didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan
belajar, Slavin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimilki
seorang siswa untauk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang
menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang atau
“salah
satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak
manusia itu ada”. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang
sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga
kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai
bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya
masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar
individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan
latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah
menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya,
siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa
yang lain selain bahasanya sendiri.
Karena belajar juga dipengaruhi oleh
potensi yang dimilki setiap individu,maka para pendidik, orang tua, dan guru
perlu memperhatikan dan memahami bakat yang dimilki oleh anaknya atau peserta
didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa
anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
f. Konsentrasi Belajar
Menurut Thursan
Hakim, bahwa konsentrasi adalah “merupakan suatu kemampuan untuk memfokuskan
pikiran, perasaan, kemauan, dan segenap panca-indra ke satu objek di dalam
suatu aktivitas tertentu, dengan disertai usaha untuk tidak memedulikan
objek-objek lain yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas itu”.
Pemusatan
perhatian (fokus) tertuju pada objek/isi bahan belajar maupun proses
memperolehnya, dan tidak terpengaruh dengan sekelilingnya. Konsentrasi sangat
mempengaruhi proses belajar seseorang, apabila konsentrasi menurun tentu
menggangu belajarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rooijakker dalam Dimyati
dan Mudjiono, mengatakan bahwa “kekuatan perhatian selama 30 menit telah
menurun”. Ia menyarankan agar guru memberikan istirahat selingan selama
beberapa menit.
g.
Kematangan dan
Kesiapan
Kematangan merupakan suatu “tingkatan atau fase dalam pertumbuhan
seseorang, di mana seluruh organ-organ biologisnya sudah siap untuk melakukan
kecakapan baru”. Misalnya siap anggota tubuhnya untuk belajar. Dalam konteks
proses pembelajaran, kesiapan untuk belajar sangat menentukan aktifitas belajar
siswa. Siswa yang belum siap belajar, cenderung akan berprilaku tidak kondusif,
sehingga pada gilirannya akan mengganggu proses belajar secara keseluruhan.
Seperti siswa yang gelisah, ribut (tidak tenang) sebelum proses belajar
dimulai. Jadi kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar mengajar,
karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya
akan lebih baik. Kesiapan juga erat hubungannya dengan minat.
h.
Kelelahan
Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani
(fisik) dan kelelahan rohani (psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah
lunglainya tubuh dan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan
ini disebabkan oleh terjadinya kekacauan subtansi sisa pembakaran di dalam
tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.
Sedangakan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan,
sehingga minat dan dorongan untuk berbuat sesuatu termasuk belajar menjadi
hilang. Kelelahan jenis ini ditandai dengan kepala pusing, sehingga sulit
berkonsentrasi, seolah-olah otak kehilangan daya untuk bekerja.
i.
Kejenuhan dalam Belajar
Menurut Reber yang dikutip oleh Tohirin dalam Muhibbin Syah, bahwa
kejenuhan belajar adalah “rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar,
tetapi tidak mendatangkan hasil”. Seseorang siswa yang mengalami kejenuhan
belajar, sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam
memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan
belajarnya seakan-akan mandeg (stagnan) tidak mendatangkan hasil.
B. Faktor-faktor
eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau
faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses
belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor-faktor
eksternal yang mempengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan,
yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
1. Lingkungan sosial
a. Lingkungan sosial keluarga
Faktor
lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama dalam
menentukan perkembangan pendidikan seseorang, dan tentu saja merupakan faktor
pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang.
Orang tua adalah penanggung jawab keluarga. Dalam
pendidikan keluarga menjadi suatu kebutuhan yang mendasar, sebab keluarga
adalah awal dimana anak mengenal dengan orang lain dan dirinya sendiri, serta
pertama-tama mendapatkan pendidikan, yaitu pendidikan yang diberikan oleh kedua
orang tuanya dan merupakan kewajiban yang bersifat kodrati dan bersifat agamis.
Hal ini diterangkan dalam Firman Allah surah at-Tahriim ayat 6 yang artinya
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka”
Ayat tersebut, jelas peran orang tua di lingkungan keluarga
sangat memegang kunci. Kalau dari awal proses belajar dan perkembangan anak
tetap tercurah oleh para orang tua, maka tercipta kondisi yang ideal bagi
terwujudnya pola pikir anak ke arah pembelajaran yang baik.
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar.
Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah),
pengelolaan keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar
siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang
harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
b. Lingkungan sosial sekolah
Sekolah
adalah lembaga formal terjadinya proses belajar mengajar. Selain pendidikan
dalam keluarga, pendidikan di sekolah diperoleh seseorang secara teratur,
sistematis, bertingkat mulai TK sampai keperguruan tinggi.
Salah satu yang menunjang keberhasilan belajar seseorang di
sekolah adalah:
1. Adanya kurikulum yang baik, yakni kurikulum sesuai
dengan kemampuan siswa, sedangkan kurikulum kurang baik adalah kurikulum
terlalu padat, di atas kemampuan siswa.
2. Sarana prasarana, yakni lengkapnya prasarana dan sarana
pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik, karena adanya gedung
sekolah dengan lengkap fasilitas belajar, seperti buku pegangan anak, ruang
ibadah, laboratorium dan lain-lain. Jadi adanya kelengkapan fasilitas dan
sarana dapat mempengaruhi kegiatan belajar anak. Anak didik dapat belajar
dengan baik apabila suatu sekolah memenuhi segala kebutuhan belajar anak didik.
3. Tata tertib dan disiplin. Menurut Thursan Hakim bahwa
salah satu yang paling mutlaq harus ada di sekolah untuk menunjang keberhasilan
belajar adalah adanya “tata tertib dan disiplin yang ditegakkan secara
konsekuen dan konsisten”. Disiplin tersebut harus ditegakkan secara menyeluruh,
dari pimpinan sekolah yang bersangkutan, para guru, siswa sampai karyawan
sekolah lainnya. Dengan cara inilah dapat mempengaruhi prestasi belajar para
siswa. Sebaliknya apabila dalam suatu sekolah tidak ada tata tertib dan
kedisiplinan maka proses belajar tidak berjalan dengan baik, dan akhirnya
prestasi siswa pun kurang baik.
4. Guru. Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam
proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya
manusia yang potensial di bidang pembangunan. Guru yang baik adalah guru yang
profesional, mengajar sesuai dengan keahliannya. Apabila kurang ahli dalam
bidang pelajaran tertentu, maka jadi sasarannya adalah siswa, yang kurang
menguasai dengan materi. Jadi guru profesional di sini dalam interaksi belajar
mengajar diantaranya adalah sebagai berikut:
5. Relasi guru dengan siswa. Proses interaksi siswa dengan
guru, dipengaruhi hubungan yang ada. Apabila guru dapat berinteraksi dengan
siswa dengan baik, akrab, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata
pelajaran yang diberikan oleh guru, sehingga siswa mempelajarinya dengan
sebaik-baiknya. Sebaliknya apabila guru kurang berinteraksi dengan siswa secara
akrab, menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar. Juga siswa merasa
jauh dari guru, maka ia segan berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
6. Relasi siswa dengan siswa, yaitu hubungan yang akan
mempengaruhi proses belajarnya, apabila siswa mempunyai sifat-sifat atau
tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, rendah diri, mengalami
tekanan batin akan diasingkan dari kelompok. Ia menjadi malas sekolah karena
mengalami perlakuan kurang bagus dari temannya. Jadi perlu hubungan baik antar
siswa, agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.
c. Lingkungan sosial masyarakat
Kondisi
lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa.
Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat
memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika
memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang
kebetulan belum dimilkinya.
1. Kegiatan siswa dalam masyarakat, yakni kegiatan siswa
dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi
kalau kegiatan siswa terlalu banyak maka akan terganggu belajarnya, karena ia
tidak bisa mengatur waktu.
2. Media Massa, yang dimaksud dalam media massa adalah
bioskop, radio, TV, surat kabar, buku-buku, komik. Dan lain-lain. Media massa
yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap
belajarnya. Sebaliknya media massa yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap
siswa.
3. Teman bergaul. Pengaruh dari teman bergaul siswa lebih
cepat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman yang baik membawa
kebaikan, seperti membawa belajar bersama, dan teman pergaulan yang kurang baik
adalah yang suka begadang, pecandu rokok, minum-minum maka berpengaruh sifat
buruk juga.
4. Bentuk kehidupan masyarakat, yakni apabila kehidupan
masyarakat yang terdiri dari orang-orang berpendidikan, terutama anak-anaknya
rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik. Masyarakat yang terdiri dari
orang-orang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan mempunyai kebiasaan
yang tidak baik, akan berpengaruh jelek kepada anak yang berada dilingkungan
itu
2) Lingkungan
non sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial
adalah;
a. Lingkungan alamiah, seperti kondisi
udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat,
atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan
alamiah tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas
belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses
belajar siswa akan terlambat.
b. Faktor instrumental,yaitu perangkat
belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung
sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain
sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan
sekolah, buku panduan, silabi dan lain sebagainya.
c. Faktor materi pelajaran (yang
diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan
siswa begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi
perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang
postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi
pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi
siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar